Daftar Blog Saya

Kamis, 21 Maret 2013

My C E R P E N


TALI CINTA ABADI
Secercah cahaya menghiasi langit pagi ini. Redupnya cahaya bulan tergantikan terangnya cahaya sinar mentari. Terdengar sayup tangisan bayi dari sebuah rumah di ujung desa ini. Ya, baru saja terlahir seorang bayi cantik bernama Cahaya. “Aya” begitulah keluarga ini memanggilnya. Keluarga yang tak pernah merasakan kemewahan akan harta, namun mereka memiliki kekayaan akan hati.
3 bulan sudah terlewati dengan adanya keluarga baru di tengah-tengah mereka. Namun, semakin hari semakin tak mampu pula pendapatan mereka menyanggah kebutuhan perekonomiannya. Setiap harinya, keluarga ini selalu memutar otak mencari cara bagaimana dan bagaimana agar mendapatkan uang. Jangankan membeli susu formula untuk si bayi, untuk biaya pengisian perut pun terasa amat berat bagi mereka.
Akhir-akhir ini kesehatan Aya menurun, ia mulai sakit-sakitan. Bagaimana tidak, dengan lingkungan sekitar rumahnya yang kumuh seperti itu pastilah kurang baik untuk kesehatan setiap orang yang menempatinya.
Himpitan ekonomi, memikirkan masalah keuangan, rasanya semua itu mencekik nafas mereka. “Pak, bagaimana, kalau Aya kita berikan saja pada ibu Anjani?” ucap ibu marwah dengan ragu kepada suaminya. Ya, ibu marwah adalah ibu dari Cahaya. “Apa? Apa ibu tidak salah ucap??? Bapak tidak mau bu ! Bagaimana pun, bapak akan berusaha lebih untuk mencari uang” ucap suaminya yang bernama Salim dengan mimik muka terkejut. “Tapi pak, ibu tidak tega dan tidak mau Aya hidup di keluarga dengan keadaan seperti ini. Lebih baik ibu berikan saja Aya pada ibu Anjani, biar mereka yang asuh Aya. Hidup dan masa depan Aya akan lebih terjamin pak disana. Lagi pula, ibu Ajani belum mempunyai anak sampai saat ini, dan seminggu yang lalu Bu Anjani meminta Aya untuk di asuhnya” Tegas istri pak salim. “Tapi bu,..” ucapnya terhenti.
Seketika suasana menjadi hening.....
“Baik lah bu, besok kita kerumah Bu Ajani untuk memberikan Aya pada bu Anjani” kata suaminya dengan mimik muka yang sayu dan mata yang berembun. Dalam hatinya meraung tak mau memberikan anaknya pada orang lain, namun di sisi lain hatinya berbisik, ini ia lakukan semata-mata agar anaknya mendapatkan masa depan yang lebih baik di kemudian hari.
Keesokan harinya, orang tua Aya mendatangi kediaman bu Anjani untuk memberikan Aya padanya. Setelah menyerahkan Aya pada keluarga bu Anjani, bu Anjani sangat senang dan berterimakasih dan ia pun berjanji akan menjaga Cahaya atau Aya dengan sangat baik.
Kemudian pak Salim dengan istrinya pulang dengan keadaan hati yang hampa. Sesampainya di rumah, ke adaan menjadi sunyi dan sepi, tak ada lagi suara tangisan Aya dan senyum manisnya. Walaupu bagitu, mereka tetap senang karena masih ada anak sulungnya yang menemani.
***
18 tahun sudah berlalu. Keluarga ini pun telah melewati tahun demi tahun tanpa di temani oleh putrinya, Aya. Sudah tak ada kabar tentang Aya selama 15 tahun terkhir ini. Ya, ketika Aya berumur 3 tahun, keluarga bu Anjani meninggalkan desa kecil ini yang terdapat di kota Sukabumi, mereka pindah ke Jakarta, dengan alasan ikut suaminya yang sedang ada proyek d kota tersebut.
Tahun ini Aya memasuki perguruan tinggi. Di perguruan tinggi ia menjalin hubungan dengan seorang kakak angkatan kuliahnya. Putra, iya, itu adalah nama kekasihnya. Putra adalah seorang anak yang pandai namun ia berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Suatu hari Aya membawa kekasihnya itu ke rumah. Namun, setelah sampai di sana orang tua Aya bertanya pada Putra tentang dari mana asalnya dan bagaimana keluarganya. Setelah orang tua Aya tau bahwa Putra berasal dari keluarga yang kurang mampu dan orang tuanya hanya seorang penjual krupuk, raut wajah orang tua Aya berubah sinis seketika. Tak berapa lama orang tua Aya beranjak pergi dari ruang tamu tersebut dengan menarik tangan Aya.
“Aya ! Sini kamu ! Kamu itu apa-apaan sih, bergaul bahkan pacaran dengan anak penjual krupuk seperti dia ! Selera kamu itu bagaimana si Aya ?!” oceh sayup sang mamah. “Mah, mamah ga boleh ngomong kaya gitu. Dia itu anak baik-baik ko mah.” Balas Aya. “Iya, tapi dia berasal dari keluarga yang serba kekurangan ! Nanti apa kata teman-teman mamah, teman-teman kantor papah? Bisa bikin malu kita tahu tidak!” ucap mamah. “Mamah !” tangis Aya sambil berlari menuju kamarnya.
“Maaf ya putra, lebih baik sekarang kamu pulang saja. Lagi pula hari sudah semakin sore.” Pinta mamahnya Aya. “Oh, iya. Baiklah tante, saya pulang dulu. Tapi Aya kemana ya tante?” tanya Putra pada mamahnya Aya. “Oh, dia.. dia sedang di toilet.” Balas mamahnya Aya singkat. “Ya sudah saya pulang dulu tante, salam buat Aya.” Kata Putra sambil bergegas pulang meninggalkan rumah Aya.
Walaupun ke dua orang tua Aya tidak menyetujui hubungan Aya dengan Putra, namun mereka tetap meneruskan hubungan tersebut. “Maafin sikap mamah aku kemarin ya sayang.” Ucap Aya  membuka pembicaraan. “Iya, tidak apa-apa sayang, aku ngerti ko kenapa orang tua kamu bersikap seperti itu. Tapi, sikap orang tua mu sepertinya ada benarnya juga.” Balas Putra. “Maksud kamu apa?” tanya Aya. “Ya, lebih baik sampai disini saja hubungan kita. Aku tau diri ko, kalau aku tak pantas untuk mu.” Jelas Putra. “ih sayang bicara apa sih?! Aku tak mengerti ! Sudahlah, tak usah memikirkan masalah ini lagi, kita jalani saja seperti air mengalir. Toh nanti lama-lama mereka akan menerima hubungan kita juga.” tuntas Aya.
Hubungan mereka pun masih tetap berlanjut walau tanpa restu dari ke dua orang tua Aya untuk saat ini. Hingga suatu ketika, sewaktu Aya pulang dari kuliahnya, Aya tak sengaja mendengar pembicaraan ke dua orang tuanya di ruang tengah. “Pah, gimana kalau kita beritahu Aya yang sesungguhnya, kalau kita... kalau kita adalah bukan orang tua kandungnya.” Tanya mamah angkat Aya. “Tapi mah, kalau dia pergi meninggalkan rumah ini setelah dia tahu kalau dia bukan anak kita bagaimana?” balas papahnya. “Tapi sudah saatnya Aya tahu tentang ini pah.” Jelas sang mamah.
Tiba-tiba...
“Apa?.... Apa yang mamah katakan tadi?... Ay..Aya bukan anak mamah?! Aya hanya anak angkat kalian?! Lalu siapa orang tua Aya yang sebenarnya pah? Mah? Siapa??!” Ucap Aya terjekut sambil berjalan mendekati orang tua angkatnya dengan muka yang pucat dan air mata yang berlinangan.
“Ay..Ayaa?!” ucap mamah dan papah Aya secara bersamaan. “Kamu sudah pulang nak?” tanya mamahnya dengan gugup. “Mah? Yang kalian biacarakan tadi, itu tidak benarkan mah?” tanya Aya sambil menagis dan terduduk lemas. “ii..iiya Aya, sebenarnya... sebenarnya kamu... kamu bukan anak kandung kami, kamu adalah anak angkat kami. Tapi, walaupun begitu kami tetap sayang sama Aya seperti sayang pada anak kandung mamah sendiri” tegasnya sambil menitihkan air mata. “Aya harus janji ya sama mamah, Aya tidak boleh pergi meninggalkan rumah ini. Mamah takut kehilangan Aya, mamah tak mau kalau itu terjadi.” Lanjut mamah angkat Aya. “Mah, makasih banyak ya mah, sudah mau merawat Aya sampai Aya sebesar ini” balas Aya. “Lalu, siapa orang tua Aya yang sebenarnya mah? Siapa?! Kenapa mereka tega membuang Aya begitu saja?!” lanjut tanyanya sambil menangis. “ssstt, Aya tidak boleh bicara seperti itu, orang tua Aya itu baik, dan mereka itu bukan membuang Aya, tapi menitipkan Aya pada mamah.” Jelas ibu angkatnya.
Kemudian, ibu angkat Aya pun menjelaskan semuanya. Dari mana Aya dan siapa orang tuanya yang sebenarnya. Kemudian Aya memaksa ingin bertemu dengan orang tua kandungnya. Akhirnya ibu angkat Aya mengizinkan Aya untuk bertemu dengan keluarga kandungnya dan ibu angkat Aya pun memberikan alamat keluarga kandungnya.
Ke esokan harinya, Aya pun bersiap-siap untuk melakukan perjalanan untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang berada di desa terpencil di kota Sukabumi. Kebetulan kuliah juga sedang libur selama satu minggu kedepan.
Selama perjalanan, Aya selalu menanyakan tentang dirinya kepada pak Ucok, seorang supir pribadi yang sudah lama bekerja di keluarga tersebut selama hampir 20 tahun.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 6 jam, akhirnya Aya pun sampai di tempat yang ia tuju. Ketika sampai di depan sebuah rumah, Aya diam sejenak dan memastikan alamat yang di bawanya apakah benar atau tidak. Aya sempat diam, dia tidak bisa berkata apapun. Dia melihat dari balik jendela mobilnya, terlihat rumah yang sangat lusuh, kumuh dan tidak layak huni bagi dirinya. Dia sempat bertanya pada pak Ucok supir pribadinya itu, “Pak, apa benar ini alamatnya?” tanya Aya lirih. “Iya neng, benar ini alamatnya.” Jawab pak Ucok singkat.
Kemudian dengan segera Aya pun keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju rumah kumuh tersebut. Ia berjalan perlahan melangkahkan kakinya tapak demi tapak dengan tatapan penuh kemirisan melihat keadaan rumah tersebut. ketika sampai di depan pintu rumah tersebut, Aya mengetuk pintu rumah itu dengan perlahan. “assalamualikum, permisi?” ucap Aya.
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, dan munculah seorang wanita dengan wajah yang penuh akan kerutan. Aya pun sempat diam mematung sejenak ketika melihat wanita itu, ia menatap mata wanita itu dalam-dalam. Terlihat jelas bagaimana kerasnya hidup yang wanita itu jalani. Seketika pandangan Aya pun kabur tertutup genangan air mata. Dan perlahan  langkah kaki Aya mendekat dan mendekap wanita itu. Dan, “Ibu?  ibuu... ini Aya bu.. ini Cahaya. Ibu masih ingatkan bu sama Aya? ibu masih ingat kan?” terang Aya dengan mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan air yang begitu derasnya. Ibu Aya pun masih tetap diam mematung, ia merasa antara percaya dan tidak percaya bahwa yang ada di dekappannya saat ini adalah anaknya, Aya, yang ia berikan pada orang lain 18 tahun yang lalu.
“Aya? ini benar kamu nak???” tanya lirih ibu kandung Aya dengan menatap wajah Aya. Tangisan pun tak terbendung lagi. Bagaikan sedang terjadi hujan air mata di rumah itu. “Iya bu, ini Aya. Ibu masih ingat?” balas Aya. “Iya Aya, ibu masih ingat. Ibu sangat merindukan mu nak. Ternyata kamu sudah tumbuh dewasa sekarang.” Jelas ibu kandungnya. “Iya bu, ibu kenapa tega membuang Aya bu, kenapa?! Apa ibu tak sayang dengan Aya?” tanya Aya. “Bukan begitu nak, sungguh bukan begitu. Keadaan yang memaksa ibu untuk melakukan ini semua.  Ibu sayang, ibu sangat sayang sekali sama kamu nak. Ibu lakukan itu karena, ya kamu lihat sendiri kan sayang, keadaan ibu kandung mu seperti ini.” Terang ibu kandung Aya. “Ayah, ayah mana bu ? Ayah mana? Aya ingin sekali melihat wajah ayah Aya bu, ayah mana?” tanya Aya lagi. “Bapak mu sudah tiada nak, dia sudah tenang di alam sana. Dia meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit paru-parunya.” Jelas ibu. “Apa bu? Bapak kandung Aya sudah meninggal bu?” katanya dengan perasaan shock. “Aya belum pernah melihat wajah bapak bu, Aya belum pernah mencium tangan Bapak, belum pernah memeluknya, belum pernah membuatnya tersenyum, belum pernah...” “sudah nak sudah” kata ibu dengan memotong ucapan Aya.
“Ibu, kenapa bu? Sepertinya ada ribut-ribut di luar?” tanya anak sulungnya sembari keluar menuju depan rumahnya. Seketika wajah Aya menjadi pucat pasi, terasa seperti petir sedang menyambar hatinya saat itu, degup jantung terasa terhenti, nafasnya terasa tercekik, tatapan mata yang penuh tanya ketika melihat anak yang menghampiri ibu kandungnya  itu adalah Putra. Ya, dia adalah Putra kekasih nya. Hatinya berteriak penuh tanya mengapa dia berada di sini. “sa..ssayang? Kenapa bisa ada di sini?” tanya Aya dengan suara bergetar. “Ya kamu, kamu kenapa bisa kemari? Dari mana kamu tahu alamat rumah ku Aya?” tanya balik Putra. “Ini? Ini rumah mu juga???” tanya aya selidik. “Rumah mu juga? Apa maksudmu?” tanya Putra heran.  “Ibu, kalau boleh tau, Putra siapa ibu?” tanya nya penuh khawatir. “Dia anak ibu, kakak kandung mu nak.” Jawab ibu kandung Aya.
Seketika pandangan Aya pun berubah menjadi gelap, suara sekitar yang terdengar kian samar hingga tak lagi terdengar. Ya, Aya pun langsung tak sadarkan diri ketika mendengar bahwa Putra adalah kakak kandungnya. Beberapa menit kemudian Aya pun tersadar.
“Tidak! Ini tidak mungkin! Kamu kakak kandung aku???” ucapnya seraya memandang Putra. “sayaang, ini tidak mungkin kan?? Kamu bukan kakak kandung aku kan sayaaang???” lanjutnya. “Sebenarnya ada apa ini? Apa kalian sudah saling kenal?” tanya ibu. “Iya bu, dia adalah wanita yang pernah ku ceritakan pada ibu.” Jelas Putra. “Jadi, maksud mu dia itu kekasih mu?” tanya ibu. “Tidak nak, ini tidak boleh dibiarkan!  Kalian harus akhiri hubungan kalian sekarang juga, karena kalian adalah saudara sekandung nak.” Sambung ibu. “Tapi bu,” sanggah Putra. “Tidak ada tapi-tapian. Sudah jelas hubungan kalian itu adalah hubungan terlarang !” tegas ibu.
***
Awan yang berkabung semakin menambah suasana gundah nan lara. Derasnya hujan di luar terkalahkan oleh derasnya air yang bermuara di mata Cahaya. Gelegar petir mengiringi debar jantung yang kian berguncang seraya jiwa pun semakin termangu.
“Nak, ini makan dulu” suara ibu yang memecah lamunan Aya. “Aku tidak lapar bu” balas Aya. “Kenapa? Apa makanan ini tidak cocok untuk mu?” tanya ibu. “Bukan bu, sungguh bukan itu. Aya ...” “Sudah nak, lupakan kakak mu sebagai kekasih mu, kamu ini anak ibu yang cantik dan manis. Kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik lagi dari kakakmu.” Terang ibu dangan memutus ucapan Aya sebelumya.
Hujan belum reda, masih mengguyur perkampungan di desa kota Sukabumi itu. Lembayung sore senja yang sendu itu pun tak terlihat, tertutup awan mendung yang menggantung. Entah bagaimana keadaan jiwa Aya yang sesungguhnya. Ia mencari pak Ucok supirnya, namun dia diam teringat bahwa pak Ucok hanya mengantarnya saja dan akan menjemputnya minggu depan nanti.
Hujan masih belum reda, tiba-tiba Aya yang sedari tadi duduk termangu di depan rumah, lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Dalam ke adaan hati yang gundah, ia memutuskan untuk pulang walau tanpa pak Ucok supirnya. Aya pun terus berlari dengan mencari angkutan umum yang mungkin ia bisa temui. Guyuran hujan yang terus membasahi raganya tak ia perdulikan.
***
“Ibu... Ibu..., apa ibu tahu dimana Aya? Sudah kucari di ruang depan, di kamar tak juga ku temukan” tanya Putra pada ibunya. “Yang benar nak, tadi dia ada di depan.” Jawab ibu. “Tidak ada bu, Putra sudah mencarinya, tapi tidak ada disana.” Terang putra. “Apa dia pergi ke rumahnya meninggalkan rumah ini tanpa pamit?” lanjut Putra. “Ibu tak tahu nak, coba kamu cari keluar barang kali dia masih dekat-dekat sini.” Perintah ibunya resah. “Baiklah bu, akan Putra cari.”
***
Mentari pagi semakin beranjak tinggi, cerahnya awanpun mampu mendampingi sang mentari. Namun tidak begitu dengan angin yang berhembus, terasa mengilu tak nyaman di kalbu.
“Ya Tuhan, Aya! Nak bangun nak, bangun ! Pah, papah.. Aya pingsan pah” teriak ibu angkat Aya ketika menemukan anaknya tak sadarkan diri di depan pintu rumahnya. Segera Aya di bawa masuk ke kamarnya dengan di gendong oleh papahnya. Kemudian mamahnya langsung memanngil dokter untuk memeriksa keadaan Aya.
Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Aya, dokter mengatakan bahwa Aya baik-baik saja, hanya saja dia kelelahan dan terlalu lama di bawah rintikan hujan. Beberapa jam kemudian Aya pun sadarkan diri. “Aya, kamu sudah bangun sayang?” sambut sang mamah ketika melihat Aya telah sadarkan diri. “Aya, Cahaya, kamu kenapa nak? Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tiba-tiba menangis? Ceritakan sama mamah nak, apa yang terjadi di sana?” ucap Mamah sambil memeluk Aya. Namun tak ada respon yang di berikan lebih oleh Aya, dia hanya diam dan sungai kesenduan yang terus mengalir di pipinya.
“Mah, Putra mah. Ternyata Putra adalah kakak kandung Aya. Tapi Aya sangat mencitai dan menyayanginya lebih dari seorang adik yang mencintai kakaknya. Aya tidak ingin kehilangan dia, mah.” Tutur Aya dengan suara yang lirih terasa perih. “Jadi Putra adalah kakak kandung mu?” tanya Mamah dengan nada terkejut. Aya hanya menjawab dengan anggukan kepala. “Ya sudah, dari awal juga Mamah sudah katakan lepaskan dia, hingga akhirnya kamu harus melepaskannya juga kan.” Lanjut mamah. “Tidak mah, Aya tidak akan melepaskan Putra, Putra harus tetap menjadi kekasih Aya dan akan melanjutkan hubungan ini hingga batas akhir waktu nanti.” Ucap Aya dengan nada memaksa. “Aya..?” sambung mamah dengan sedikit tidak percaya.
***
Sudah beberapa hari ini Putra berfikir keras dan merangkai beberapa kata yang baik untuk di ucapkan pada Aya untuk mengakhiri hubungan yang tak semestinya terjalin itu. Hingga akhirnya, sore itu “Aya, tunggu Aya.” Seru Putra pada Aya. “Aya, kita harus bicara.” Lanjutnya.   “Iya, aku sudah tau. Kau hanya ingin bicara dan memberitahu ku jika hubungan kita akan tetap berlanjutkan sampai kita mati nanti?” kata Aya. “Bukan Ya, bukan itu. Aya, aku ingin kau mengerti. Kita akhiri hubungan kita sebagai sepasang kekasih, karena memang itu yang seharusnya kita lakukan. Aku minta maaf Aya, tapi aku akan menjadi kakak yang sangat menyayangi mu, tapi itu hanya rasa sayang kakak terhadap adiknya, tidak lebih.” Terang Putra, kakaknya. “Sayang...” ucap Aya lirih dengan meneteskan percik demi percik air yang bermuara pada matanya itu. “Maaf, aku harus pergi, masih ada urusan.”
Tertegun, terpaku dan termangu. Hembusan angin senja itu menelusup sukma yang layu. Deru angin yang semakin mendayu sendu mengiri langkah gontai sang pemilik hati yang sedang melayu itu. Terasa seperti badai yang menampar jiwa. Aya kini lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar, raut wajahnya telah meredup tak secerah mentari pagi yang berseri.
***
Penyusutan pemasukan sedang malanda dunia ekonomi, saham-saham yang ada di kota-kota lain pun saling berjatuhan. Tak ketinggalan pula dengan perusahaan yang dimiliki oleh orang tua angkat Aya beserta sahamnya. “Apa pah?! Saham kita semuanya turun? Kita bangkrut pah? Perusahaan kita bangkrut?” teriak shock sang mamah saat mendengar kebangkrutan perusahaan. “Iya mah, dan besok rumah ini beserta fasilitasnya akan di sita oleh bank untuk menutupi semua kerugian itu.” Jelas suaminya lesu. “Ya Tuhan, bagaimana ini pah?” Balas mamah melemah dan terduduk di lantai.
Esok harinya, mereka pun segera berkemas dan pindah ke kontrakkan yang tak begitu besar  dan sangat sederhana. “Aya, maafkan kami ya nak. Kita hanya bisa tinggal di kontrakkan kecil ini.” Terang sang mamah. Namun Aya hanya diam saja, diam membisu seribu bahasa. Jiwanya terasa terkoyak, badai-badai kehidupan sedang menerpanya.
***
“Len, aku boleh pinjam uang mu untuk bayar semester ?” tanya Aya pada temannya, Leni. “hmm.. bisa, tapi aku hanya bisa meminjamkan separuhnya saja, karena memang adanya segitu.” Jelas Leni. “Okelah, tak apa Len” balas Aya, yang terus berbincang seraya berjalan menuju perpustakaan yang ada di kampusnya itu. “Ya, Aya, lihat deh. Itu bukannya Putra kan? Oh iya, dia bersama Bella pacar barunya ya?” Kata Leni seraya menunjuk Putra, yang semakin berjalan mendekat kearah perpustakaan. “Kak Putra.” Seru Aya. Putra pun langsung melihat kearah Aya seraya melepaskan genggaman tangan mereka berdua. “Eh Aya, sudah lama ya kita tak bertemu. Oh iya, kebetulan ini ada undangan pertunangan aku denga Bella, nanti kamu datang ya adikku.” sapa Putra. Seketika itupun Aya berlari pergi meninggalkan mereka dengan air yang mencair dari matanya. Jiwanya terasa terkena halilintar disiang bolong.
Seperti biasa sesampainya di rumah Aya langsung memasuki kamarnya. Dari siang hingga malam Aya tak kunjung keluar dari kamarnya. Sementara di luar telah terjadi cekcok antara mamah dengan papahnya. Tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar Aya, seperti suara teriakan hati yang baru saja bisa meluap. “Ya, Aya buka pintunya!” panggil mamah. Namun Aya terus saja berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Sementara papah terus mencoba membuka paksa pintu kamar Aya hingga akhirnya terbuka juga. “Aya, kamu ini apa-apaan sih? Teriak-teriak tidak jelas seperti orang kesurupan saja.” Oceh mamahnya. “Kalian ! Suara tengkar kalian yang membuat kepala ku mendidih !” sanggah Aya. “Oh jadi sekarang kamu berani ya Aya?! Hah? Kamu itu harusnya cari kerja, untuk menambah pemasukan! Bukan selalu uring-uringan di kamar seperti ini!” ucap mamah  dengan nada emosi seraya mendekati Aya. “Kerjaanmu hanya menangis dan mengurung diri saja di kamar! Kuliah mu juga jadi berantakan, kamu mau jadi apa Aya? Apa hanya ingin menjadi benalu saja?!” cercah mamahnya dengan suara yang lantang dan mencengkeram erat kedua bahu Aya.
Tiba-tiba dengan cepat Aya mengambil gunting dari atas meja yang ada  di dekatnya. Dan tanpa sadar, Aya mengacungkan gunting tersebut tepat di depan mata mamahnya. “Aya ! Apa-apaan kamu ini Aya !” teriak mamahnya. “Singkirkan gunting itu, singkirkan !” ucap papahnya yang mendekat dan menahan tangan Aya yang sedang memegang gunting itu. Fikiran Aya yang sedang semerawut, keadaan hati yang kalut, serta emosi jiwa yang tak kalah terpaut. Merasa tangannya tak leluasa untuk menumpahkan emosinya, Aya pun kuat-kuat menghempaskan tangan yang menahan tangannya itu. Namun, ketika Aya mencoba menghempaskan tangan papahnya itu, tanpa di duga ternyata gunting yang sedang di pegang erat tangan Aya terhempas dan menusuk leher sang papah.
“Ayaaa !!!” teriak histeris mamah. “Apa yang telah kamu lakukan Aya?! Kamu pembunuh !” lanjut cela sang mamah yang kemudian melemas dan tak sadarkan diri. Tangan Aya yang sedari tadi memegangi gunting tersebut pun telah berlumuran darah. Aya menjauh menuju sudut ruangan seraya mencengkeram kepalanya, “Tidak ! Ini tidak mungkin ! Aku tidak membunuh papah. Aku bukan pembunuh. Bukan ! Bukan !!!”
Tetangga sekitar yang mendengar kegaduhan pun mendatangi rumah kontrakkan tersebut, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kedatangan para tetangga pun terlambat, sudah tidak bisa mencegah kejadian yang mengerikan tadi. Ketua keamanan setempat yang mengetahui kejadian tersebut langsung melapor pada pihak yang berwajib. Tak lama kemudian pihak kepolisian pun datang ketempat kejadian perkara itu, dan membawa Aya ke kantor polisi untuk di periksa. Sedangkan kedua orang tua angkatnya di larikan ke rumah sakit.
Di kantor polisi Aya hanya bisa diam dan bermuram, tak jarang ia berteriak-teriak sambil menangis tak karuan. Jiwa Aya benar-benar terguncang hebat. Begitu banyak tekanan kehidupan dari sana sini yang menghampirinya. Akhirnya pihak kepolisan pun mengirim Aya ke Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota Bogor untuk pemulihan jiwa Aya yang sudah tak seimbang itu. Sedangkan nyawa angkat papah Aya sudah tidak dapat tertolong lagi, ia menghembuskan nafas terakhirnya ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
***
Putra, sang kakak pun mengetahui berita yang mengejutkan itu. Kemudian Putra bersama ibu kandung Aya pun datang menemui Aya ke kantor polisi, namun disana pihak kepolisian mengatakan bahwa Aya sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Jiwa Bogor. Mengetahui hal itu, Putra dan ibunya pun bergegas menuju rumah sakit tersebut. Sesampainya di sana, Putra dan ibunya di antar oleh petugas rumah sakit untuk menemui Cahaya. Disana, di sudut sana Putra dan ibunya melihat sesosok gadis manis yang terkena beban mental kehidupan yang cukup berat. Mereka pun menghampiri Aya, dan ibu kandungnya pun tak kuasa menahan haru kesedihan dan memeluk erat tubuh Aya. “Aya, kenapa kamu nak? Apa yang terjadi pada dirimu saat ini.” Tutur ibu kandungnya sambil menyeka air mata yang membasahi wajah Aya. “Nak, sabar ya nak. Kamu harus kuat ya manis, ibu selalu ada di belakangmu.” ucap sang ibu memelas dengan menitihkan embun dari pelupuk matanya.
“Aya, adik ku.” Sapa Putra.  Aya pun memandang Putra dan menatap dalam Putra. “Kamu ! sedang apa kamu di sini? lebih baik kamu pergi, silahkan pergi dengan kekasih mu itu !” usir Aya. “Aya, sudah Aya. Jangan kau perlakukan aku seperti ini terus, jangan kau pandangi aku dengan tatapan kebencian. Aya..” bujuk Putra dengan menggenggam erat tangan Aya. “Aya, kau tau? Aku sangat menyayangimu Aya, sungguh. Aku juga sangat mencitaimu.” Terang Putra dengan menatap dalam Aya, begitu pun sebaliknya dengan Aya. Adu padang yang menggetarkan jiwa, memberi setitik obat kesegaran jiwa sang pesakitan. “Tapi Aya, sayang dan cinta ini hanya sebatas rasa sayang kakak kepada sang adik, tak lebih. Dan tak bisa lebih. Kita harus bisa memahami dan mengerti, mana yang seharusnya dan mana yang tak seharusnya. Jadilah adik yang membanggakan, Aya. Biar cinta kita kan selalu abadi dan terikat kuat karena adanya tali pertalian saudara di antara kita.” Tungkas Putra seraya memeluk Cahaya.

#created by. Yopi Nuraini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar