Daftar Blog Saya

Jumat, 08 Februari 2013

- DRAMA -


Drama
Jantung ku bukan Jantung Ku
Dalam kehidupan yang keras seperti saat ini, terdapat sebuah keluarga yang kaya raya. Ayahnya adalah seorang pemegang saham dan mempunyai andil besar pada banyak perusahaan. Namun itu dulu, saat ini indeks saham sedang mengalami punurunan secara drastis, dan itu sangat berdampak besar pada banyak perusahaan di kota-kota besar. Akibat dari situlah, perekonomian keluarga tersebut langsung menurun secara drastis, rumah mewah yang mereka miliki di sita oleh bank.
Pagi itu . . .
Mamah  : “haaah... (sambil menghela nafas kesalnya) apa yang harus kitalakukan sekarang?!  Rumah   kita, mobil, kartu kredit, semuanya habis disita oleh bank ! Sampai tabungan kita pun telah limited !”
Papah     : “Ya sabar donk mah ! Papah akan berusaha lagi ! Tenang saja semua itu akan kembali ! Jadi sementara kita tinggal di kontrakkan ini.” (tegas papah)
Mamah  : “Apaaa?! Tinggal di kontrakan kumuh seperti ini ?! Ngga pah ngga ! Mamah ngga mau tinggal disini ! Lebih baik mamah pergi dari rumah ini !”
Papah     : “Apa maksud mu?”
Mamah  : “Aku ngga tahan dan ngga akan bisa tinggal dan hidup di rumah kumuh seperti ini ! (sambil mengemasi barang-barangnya) Ayo Naila ikut mamah !” (perintahnya pada anak bungsunya)
Naila      : “Ngga mah, aku ngga mau! Aku mau sama papah.”
Mamah : “Udah ayo ikut mamah !” (sambil tetap memaksa Naila)
Papah     : “Mah, mamah tuh apa apa an sih?! Mamah liat sendirikan ! Kalau Naila ngga mau ikut sama mamah !!! Jadi ngga usah paksa Naila lagi ! Kasian mah kasian Naila....”
Mamah  : “Pah, Naila akan lebih kasian jika ia tinggal di rumah kumuh seperti ini !”
Papah                          : “Sudah! Kalau kau ingin pergi, pergi saja sendiri ! Jangan bawa anak-anak !”
Mamah                        : “Baiklah ! Mamah akan pergi sekarang juga !” (tegas ibu bima sambil berjalan keluar meninggalkan rumah)

Seminggu kemudian, lagi-lagi musibah menimpa keluarga tersebut. Naila, anak bungsu dari keluarga tersebut terjatuh dan kakinya pun terluka parah. Menurut dokter, kakinya harus segera di operasi, untuk mengambil  serpihan “seng” yang terdapat pada luka di kakinya. Jika tidak, kakinya akan di amputasi. Namun, mereka kebingungan mencari dana untuk membayar operasi tersebut. Sedangkan ayahnya saat ini bekerja sebagai supir taksi.
Di ruang tunggu. . . .
Chika               : “Kenapa? Itu tadi adik kamu?”
Bima                           : “Ouh, iya. Dia mengalami kecelakaan, dia terjatuh di depan rumah dan kaki nya terluka.”
Chika               : “Ouh”
Bima                : “Kamu sendiri, di sini sedang apa?”
Chika               : “Ouh, kalo itu. . . .”
Papah Chika    : “Chika ! ayo sayang... sekarang kita pulang !”
Chika               : “Iya pah. Saya permisi dulu yaa....”
Bima                : “Ouh iya..”

Tak berapa lama kemudian, papah Bima keluar dari ruang periksa dokter...
Bima                :  “Apa kata dokter pah?”
Papah Bima                 : “Dokter bilang, kaki Naila harus segera di operasi untuk mengambil serpihan “seng” yang ada pada kakinya. Jika operasi itu tidak segera dilakukan, kakinya akan di amputasi.”
Bima      : “Lalu bagaimana dengan biayanya? Saat ini apa yang bisa papah lakukan?!” (sambil pergi meninggalkan ayahnya.)

Di dalam toilet. . .
Danu      : “Lagi butuh uang ya? Tadi saya tidak  sengaja mendengar percakapan kalian. Butuh berapa? Saya bisa bantu kamu. Saat ini, saya lagi butuh orang yang mau mendonorkan organ tubuh bagian dalamnya.”
Bima      : “Lalu, apa hubungannya sama saya?”
Danu      : “Di jaman yang keras seperti saat ini banyak orang bodoh yang mati bunuh diri gara-gara desakan ekonomi. Jadi, dari pada bunuh diri mending kamu jadi pendonor, pendonor organ bagian dalam tubuh. Kebetulan ada orang yang lagi nyari pendonor organ dalam tubuh.”
Bima      : “Ya terus apa urusannya sama saya ?! saya tidak tertarik dengan semua itu.”
Danu      : “Ya kan tadi saya ga sengaja dengar percakapan kalian kalo kamu lagi butuh uang. Ya udah kamu donorin organ dalam tubuh  kamu aja, gimana? Nanti saya akan kasih berapa pun uang yang kamu mau.”
Bima      : “Maaf, cari aja orang bodoh lainnya yang mau donorin organ dalam tubuhnya !”
Danu      : “Tapi saya mencari orang bodoh yang ngga asal bodoh ! lebih baik, pikir-pikir aja dulu deh, kalau kamu mau, kamu tinggal cari saya, saya ada di sekitar rumah sakit ini ko. Oh iya lupa, nama gue Danu.”
Kemudian Danu pun pergi meninggalkan toilet dan Bima masih berdiam diri sejenak sambil memandangi wajahnya di cermin toilet tersebut.

Ke esokan harinya, Bima pergi ke sekolahnya.
Rendi    : “Hey Bim, lo kemana aja baru kliatan gini.”
Bima      : “Tau lah Ren, gue lagi bingung. Kayaknya gue bakal keluar dari sekolah ini.”
Rendi    : “Kenapa???” (tanyanya kaget)
Bima      : “Papah udah ngga bisa biayain sekolah gue lagi ! Sekarang udah kacau Ren keadaan gue. Oh iya Ren, lo lagi megang uang berapa Ren? Boleh gue pinjem? Ini penting banget, buat biaya operasi adik gue.”
Rendi  : (sambil mengeluarkan dompetnya) “Nih bim ada 300 ribu, yaudah ni lo bawa aja.”
Bima    : “Bener Ren gak papa? Makasih banget ya Ren, kalo gitu gue cabut dulu.”
Rendi  : “Iya, Bim. Yaudah lo yang sabar aja ya Bim.”

Setelah mendapatkan uang itu, Bima pun langsung pergi menuju rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, Bima langsung menuju ruang Administrasi.
Bima   : “Permisi mba, saya mau membayar biaya operasi, sisanya nanti saya akan usahakan.”
Petugas rumah sakit : (hanya melihat sinis Bima yang hanya membawa uang 300 ribu untuk biaya operasinya) maaf kami tidak biasa. (hanya itu yang di ucapkan oleh petugas administrsi di rumah sakit tersebut)
Ya jelas saja, biaya operasi yang di perlukan adiknya adalah 7 juta. Sedangkan Bima hanya membawa uang 300 ribu. Kemudian Bima pergi ke atas gedung rumah sakit tersebut. Dia berdiri di tepi atas gedung tersebut, sambil menatap dalam-dalam apa yang ada di dasar gedung tersebut. Kemudian,. . .
Chika   : “Mau ngapain? Mau bunuh diri?” (tegur chika dengan tersenyum tipis)
Bima    : “Ngapain kamu disini?”
Chika   : “Emang ngga boleh ya kalau aku di sini?”
Bima    : “Ya aneh aja, emang kamu ga takut sama ketinggian?”
Chika  : “Engga tuh, kalau kamu lagi ngapain di sini? Mau bunuh diri ya? Harus nya kamu bersyukur, untung ada aku di sini, jadi kamu ngga jadi kan ngelakuin perbuatan bodoh kamu.”
Bima    : “Nama kamu chika kan?”
Chika   : “Kamu tau dari mana?”
Bima    : “Kemaren papah kamu manggil kamu dengan nama itu.”
Chika   : “hahaha, kamu masih ingat itu?”
Bima   : “Iya otak aku juga tau, mana yang harus di ingat dan mana yang harus tidak di ingat. Oia, nama ku Bima.”
Chika   : “Aku chika. Kamu ga sekolah?”
Bima    : “Ga, hari ini ijin dulu sekolahnya, buat jagain adik aku. Kamu sendiri ga sekolah?”
Chika  : “Aku home schooling, dan hari ini lagi ga ada jadwal belajar. Oh ya, bagaimana keadaan adik kamu sekarang?”
Bima    : “Masih sama, belum ada kemajuan.”

Mereka pun berbincang-bincang tentang kehidupan mereka masing-masing. Dan setelah selesai, Bima kembali lagi ke ruangan tempat dimana adiknya di rawat. . . .
Bima menangis ketika melihat adiknya yang masih terbaring lemas, dan ia pun tak tega bila melihat kaki kanan adiknya di amputasi nanti. Akhirnya bima pun keluar dari ruangan tersebut, dan mencari Danu, orang yang mencari pendonor dalam  tubuh.
Bima      : “Maaf, apa anda orang yang kemarin itu?”
Danu      : “Oh iya ya benar sekali. Gimana dengan tawaran saya kemarin? Kamu mau menerimanya? Kalau kamu mau menerimanya, nanti saya akan berikan uang pertama buat kamu. Dan itu bisa di gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Dan sisanya akan saya berikan nanti setelah transplantasi berhasil.”
Bima      : “Bagian tubuh mana yang harus saya donorkan?”
Danu     : “Jantung.”
Bima pun tersentak kaget dan terdiam sejenak ketika mendengar bagian dalam tubuhnya yang harus di donorkan adalah jantung. Bima sadar, bahwa jika ia mendonorkan jantungnya, ia akan mati nantinya. Setelah berfikir sejenak, . .
Bim a   : “Baiklah kalau begitu.”
Danu   : “Ya sudah, kalau begitu kamu sekarang ikut saya, untuk melakukan pemerikasaan, apakah jantung kamu benar-benar cocok dengan pasien transplantasi atau tidak.”

Kemudian Bima pun menjalani tes kecocokan, setelah hasilnya fix atau cocok, Danu pun memberinya uang yang jumlahnya tak sedikit. Setelah Bima mendapatkan uang tersebut, Bima langsung menggunakannya untuk membayar biaya operasi adiknya. Dan hari itu juga adiknya melakukan operasi pembuangan serpihan seng pada kakinya.
Ke esokan harinya. . .
Chika   : “Hai bim..”
Bima    : “Eh chika.”
Chika   : “oh ya, gimana kabar adik kamu? Boleh aku menengoknya?”
Bima   : “Oh iya, tentu saja boleh, keadaannya sudah mulai membaik, kemarin dia baru melakukan operasi kakinya.”
Chika   : “Hai, manis... gimana kabar kamu sekarang? Masih sakit?”
Naila    : “Kakak siapa ?”
Chika   : “Aku kak chika, gimana sekarang? Masih sakit”
Naila    : “Ngga ko ka, aku udah baikkan sekarang.”
Chika  : “Oh ya, kamu suka boneka barbie? Kalau kamu suka Kakak punya banyak loh di rumah?”
Naila    : “Waaah.... yang benar ka? Iya kak, aku suka banget sama boneka barbie”
Chika  : “Iya benar, kakak ga bohong. Makanya kapan-kapan kalau kamu udah sembuh kamu main ya ke rumah kakak, nanti kakak kasih boneka barbie buat kamu.”
Naila                : “Bener ka?”
Chika               : “Iya bener sayang,..”

Setelah chika menengok Naila, Chika mengajak Bima untuk berkunjung kerumahnya.
Chika               : “Bim, main ke rumah aku yuk?”
Bima                : “Kapan?”
Chika               : “Ya sekarang...”
Bima                : “emmm, yaudah deh ayo.”

Setelah itu Bima pergi ke rumah Chika. Sesampainya di rumah Chika....
Chika               : “Papah...” panggilnya.
Papah Chika    : “Iya sayaang..”
Chika               : “Pah ini loh yang namanya Bima.”
Papah chika     : “Owh ini anak nya.”
Bima                : “Pagi om, saya Bima om, teman Chika.”
Papah chika     : “Pagi, yah silahkan duduk. iya iyah om tau, chika sudah cerita ko sama om. Kamu ga sekolah?”
Bima                : “Ijin om, cari uang buat biaya operasi adik Bima.”
Papah Chika    : “Sampai mengorbankan sekolahmu untuk mencari biaya operasi adik mu?”
Bima                : “Ya habis mau gimana lagi, usaha papah sekarang bangkrut.”
Papah chika     : “Bagaimana pun sekolah harus di utamkan, Bima.”


Setelah lama mengobrol akhirnya Bima pun kembali ke rumah nya.
Papah Bima     : “Bima ! papah mau bicara sama kamu !”
(bima pun tidak menghiraukannya dan langsung pergi memasuki kamarnya)
Papah Bima     : “Bim, kamu dengar tidak apa yang papah katakan?! Papah ingin bicara ! buka bim, pintunya buka !
Bima                : “Apa sih pah ?”
Papah Bima     : “Dari mana kamu dapatkan uang itu?”
Bima                : “Papah ga perlu tau ! yang jelas itu uang halal ko pah. Tenang aja !”
Papah bima     : “Ya papah harus tau darimana kamu dapatkan uang itu?! Oh ya, kamu sudah berapa lama tidak masuk sekolah? Papah minta kamu besok harus berangkat sekolah.”
Bima               : “Pah, besok kita pergi ke pengacara kemudian ke bank ! kita akan ambil rumah kita kembali yang di sita oleh bank !”
Papah Bima     : “Papah suruh kamu besok pergi ke sekolah bukan ke pengacara ! Papah tidak mau ! Kenapa kamu sekarang jadi suka mengatur papah?! harusnya kita bersyukur masih bisa tinggal di tempat seperti ini !”
Bima                            : “Pah ! Ngapain Bima sekolah buat apa?! Toh papah juga udah gag mampu biayain sekolah Bima lagi. Papah ga kasian sama naila? Naila masih butuh istirahat dan tempat istirahat yang nyaman ! Papah ga kasian liat Naila kaya gini ?! Pokoknya papah besok harus menandatangani perjanjian pengembalian rumah tersebut. Bima udah bikin janji jam 10 besok!”
Papah bima     : “Gag usah ngatur-ngatur papah gitu ya Bim ! dan ga usah ngambil alih fungsi papah ! Kamu mau jadi apa nanti kalau SMA saja tidak sampai lulus”
Bima               : “Buat apa pah sekolah, kalau saat ini masih ada seorang Master yang pengangguran dan menjadi supir taksi! Pah, kalau buat ngembaliin itu rumah tanpa tanda tangan papah, bima juga ga akan nyuruh papah ! Oke. Bima akan turuti ke inginan papah, setelah papah menandatangani surat itu besok !”
Papah Bima     : “Bima !”

Bima pun langsung pergi memasuki kamarnya. Dan ke esokan harinya, ayah bima pun menuruti apa kata Bima, ia pergi ke kantor pengacara dengan menyetir mobil taksinya.  Setelah sampai di kantor pengacara. . .
Satpam                        : “Maaf pa ! taksi di larang parkir di dapan sini.”
Papah Bima     : “Oh, baiklah.”
Setelah itu. . . .
Pengacara        : “Yah, silahkan duduk.”
Bima                            : “Kami sudah membuat janji dengan anda kemarin, untuk menandatangani surat pengembalian rumah.”
Pengacara        : “Apa anda yakin untuk menandatangani surat pengembalian rumah ini?”
Papah Bima     : “Iya pak, saya yakin.”
Pengacara        : “Apakah anda sudah mempunyai uang yang cukup?”
Bima                : “Sudah pak, bapak tenang saja.”
Pengacara        : “Baiklah, silahkan tanda tangani surat pengembalian rumah ini.”
Papah Bima     : “Iya pak.” (kemudian papah bima pun menandatangani surat tersebut)
Pengacara        : “Sudah ?”
Papah bima     : “Iya pak, sudah.” (sambil menyerahkan surat yang sudah di tandatanganinya dan mengembalikan bolpoinnya)
Pengacara        : “Baiklah, jika sudah anda boleh meninggalkan ruangan ini.”
Papah bima      : “Terima kasih banyak pak.”
Pengacara        : “Ya.” (sambil membalas jabat tangan papah bima dengan memandang rendah mereka)


Setelah penandatanganan surat itu di lakukan, rumah pun sudah bisa mereka miliki dan mereka langsung menempatinya.
Keesokan harinya, saat naila sedang berada di halaman rumahnya tiba-tiba ibu Bima datang.
Ibu Bima         : “Hay naila sayang. Gimana kabar kamu sekarang? Ko kamu jadi kurus sih?”
Naila                : “Nailah baik-baik aja ko mah. Mamah kesini sama siapa?”
Ibu bima          : “ini? Ini om.”
Om Heru         : “Hay naila cantik. Kenalin, nama om, heru. Panggil aja om heru.”
Ibu naila          : “Sebentar lagi dia akan jadi papah baru naila.”
Naila                : “Papah baru naila?”
Ibu Bima         : “Iya. Naila, sekarang ikut mamah yuk, nanti mamah mau beli in boneka barbie apa aja yang kamu mau.”
Om Heru         : “Iya naila, ayo ikut om sama mamah kamu.”
Naila                : “Naila gag mau ! naila mau di sini aja !”
Ibu Bima         : “Iya ayo naila cepetan ikut mamah !”
Om Heru         : “Iya ayo, cepat masuk mobil om, nanti om beli in ice cream yang banyak buat kamu.”
Naila                : “Naila ga mau mah, ga mau !”
(suara teriakan naila terdengar oleh papahnya )
Papah Bima     : “Ngapain kamu datang kesini lagi?”
Om Heru         : “sudah lebih baik kamu diam saja ! kamu itu udah jadi suami yang ga berguna. Dan ga bisa menjamin masa depan anak-anaknya !”
Ibu Bima         : “Iya saya kesini mau menjemput Naila !”
Naila                : “Naila gag mau !”
Papah Bima     : “Kamu dengar sendiri kan? Lebih baik, sekarang kalian pergi !”
Sambil mendorong mereka keluar dan menutup pintu pagar rumahnya.
***
Kriiing....kriiing... (handphone Bima berbunyi)
Bima                : “Halo ?”
Danu                           : “Halo bima. Bisa kita bertemu sekarang di taman kota? Ada surat persetujuan yang harus kamu tandatangani, mengenai pendonoran jantung tersebut.”
Bima                : “oh, baiklah. Saya akan segera kesana.”

Dengan hati bimbang bima pun pergi kesana, diapun berniat membatalkan niatnya untuk melakukan pendonoran jantungnya tersebut. Namun sesampainya di taman kota.
Bima                            : “maaf om, akan saya kembalikan uang ini. Saya membatalkan niat saya untuk mendonorkan jantung saya. Uangnya ada yang sudah saya pakai. Soal itu saya akan menggantinya.”
Danu                           : “Loh, loh, loh, tidak bisa begitu dong. Kamu tau, jantung yang kamu donorkan untuk siapa? Jantung kamu untuk Chika bim, dia sudah menderita penyakit jantung yang akut, dan saat ini kondisinya sudah sangat memburuk, ia harus mendapatkan pendonor dalam waktu satu minggu ini.”
Bima                : “Apa? Chika? Ga, ini ga mungkin.”
Danu                           : “Kalau kamu ga percaya, kamu cari tau aja sendiri. Tapi jangan bertanya langsung, karena itu ga etis !”
Bima pun merasa sangat terkejut dan ia pun berdiam diri sejenak, lalu. . .
Danu               : “Jadi bagaimana? Apakah kamu bisa menandatangani surat ini sekarang?”
Bima                            : “Baiklah, tapi beri waktu aku 2 hari lagi. Ada urusan yang harus saya selesaikan.”
Danu                           : “Oke, tapi 1 setengah hari saja. Karena Chika harus segera melakukan operasi transplantasi jantung dalam minggu ini, karena kondisinya yang sudah semakin memburuk.”
Bima                : “Baiklah.”
Kemudian bima pulang kerumahnya dengan hati yang parau. Hatinya terus meronta antara mau dan tidak mau, setuju dan tidak setuju untuk melakukan semua hal tersebut. Terdengar sayup semilir angin dan bisikan hati yang sendu bahwa ia harus melakukannya untuk kebaikan orang-orang disekitarnya. Setelah sampai di rumah, ia pun langsung memasuki kamar nya, dan menulis 2 pucuk surat untuk papahnya dan untuk chika, yang akan di berikan dan di baca oleh Ayahnya dan chika ketika ia sudah tiada nanti.

Keesokan harinya, Bima menemui chika. . .
Bima                : “Selamat pagi om?”
Papah Chika    : “Selamat pagi.”
Bima                : “Chika nya ada om?”
Papah chika     : “Dia, dia ada di kamarnya. Di sedang sakit.” (ucap papah Chika dengan raut muka yang sendu)
Bima                : “Apakah saya boleh melihatnya om?”
Papah Chika    : “Ya, tentu saja boleh. Silahkan.”
Bima                : “Chika, kamu baik-baik saja kan?” (sambil mengenggam tangannya)
Chika               : (Chika pun terdiam, yang ada hanya air mata yang menetes pada sudut matanya)
Bima                            : “Chika, kamu kenapa nangis? Kamu ga usah sedih, kan ada aku di sini.” (cobanya menghibur)

Chika                           : “Makasih ya bim, kamu udah mau jadi teman baik aku. Selama ini, aku belum pernah punya teman seperti kamu. Aku hanya di rumah, di rumah dan di rumah. Aku ini bagaikan terkurung di sangkar emas. Papah ga pernah ijinin aku untuk bebas di luar sana, jangankan pergi bermain di luar, untuk sekolah pun aku harus homeschooling. Ini semua papah lakukan karena penyakit yang aku derita. Ya, aku punya penyakit bim, aku punya penyakit jantung, jantung aku lemah sejak lahir. Dan sekarang penyakit ini akan merenggut nyawaku.”
Bima                            : “Kamu ga boleh bilang kaya gitu, kamu harus semangat dan optimis dalam menjalani hidup.”
Chika                           : “Ga bim, hanya tinggal beberapa hari lagi sisa waktu ku. Karena sampai sekarang, belum ada pendonor yang mau mendonorkan jantungnya untukku. Haah,, siapa juga yang mau mendonorkan jantungnya untuk ku???! Pasti ga ada orang yang mau melakukan itu !”
Bima                : “Ada ! pasti ada chika !”
Chika                           : “Siapa??? Siapa ??? Siapa orang itu??? Ga akan ada bim ! ga akan !” (derai air mata yang terus mengalir dari kelopak mata chika menambah suasana haru di dalamnya)
Bima                            : (bima pun memeluk chika, sambil hatinya bergumam “ada chika, ada orang yang mau donorin jantungnya buat kamu. Orang itu aku chika” air mata pun jatuh dari mata Bima.)

Sore harinya Bima langsung bertemu dengan Danu, di taman kota seperti kemarin.
Danu               : “Bagaimana? Kamu jadi kan? menandatangani surat ini?”
(dengan tangan bergetar bima pun mengambil surat dan bolpoin dari Danu, dan menandatanganinya.)


Danu                           : “Baiklah, terimakasih banyak bima. Saya bangga dengan kamu. Tenang saja, sisa uangnya akan kami berikan pada keluargamu. Dan ini, ini boleh kamu minum semuanya.” (dengan memberinya beberapa butir pil untuk membuat Bima kehilangan nyawanya, dan jantungnya akan digunakan untuk tranplantasi pada jantung Chika.)

Kemudian, Danu segera mengabari ayah chika, bahwa ia telah mendapat pendonor jantung untuk chika.
Danu               : “Selamat sore pak?”
Papah Chika    : “Iya, bagaimana Danu?”
Danu               : “Saya sudah mendapatkan orang yang mau mendonorkan jantungnya pak !”
Papah Chika    : “Apa? Benarkah itu? Baik lah, termakasih Danu.”

Kemudian dengan segera, ayah chika berkemas dan segera membawa chika ke rumah sakit yang berada di Singapore untuk melakukan tranplantasi jantung.
Papah Chika    : “Ayo chika, kamu tenang saja ya nak, kamu pasti akan sembuh. Karena papah sudah menemukan orang yang mau mendonorkan jantungnya buat kamu.”
Chika               : “Tapi, bima mana pah? Bima harus ikut ke singapore, pah.”
Papah Chika    : “Iya, tenang saja, nanti bima akan segera menyusul.”

Sementara itu, setelah pulang dan menandatangani surat persetujuan tersebut Bima pun pulang dan langsung memasuki kamaranya yang ada di lantai atas. Dengan memutar musik dan menggunakan headphone, Bima menatap surat yang ada di atas meja belajarya. Dan beberapa butir pil kematian telah ada di genggaman tangannya.
Sementara itu, suasana di bawah sangat ricuh. Ibu Bima datang kembali ke rumah itu bersama selingkuhannya. Mereka datang dan memaksa naila untuk ikut dengannya. Namun, naila tidak ingin ikut dengan ibunya, dia tetap ingin bersama ayahnya.
Papah Bima     : “Aku bilang lepaskan tangan naila !”
Naila                : “Aku ga mau mah, aku ga mau ikut mamah.” (ucap naila sambil menangis)
Ibu Bima         : “Sudah, ayo cepat ikut mamah.” (dengan menggendong paksa naila)
Papah Bima     : “Aku bilang turunkan naila ! naila tidak ingin ikut dengan mu.”
Ibu Bima         : “Tidak!Aku tidak akan melepaskan naila. Akan aku bawa naila bersamaku !”
Papah bima      : “Kamu !!!” (mengangkat tanagnnya dan ingin menampar mantan istrinya itu)

Kemudian selingkuhan mantan istrinya pun tiba-tiba memasuki rumah itu. Dan . . .
Om Heru         : “Sudah cukup hentikan ! semuanya diam !” (sambil mengeluarkan pistol dari kantong celananya)
Dan. . .  Dooorr !!! sebutir peluru terlepas dari pistolnya itu dan melayang kemudian tertanam pada dada papah bima. Seketika papah bima pun jatuh tersungkur.
Naila                : “Papaaaaahh ...... !!!!”
Sementara itu, di kamar atas bima telah meminum obat kematiannya.
Tidak beberapa lama, ke duanya pun dengan cepat dilarikan kerumah sakit. Keduanya masih hidup namun dalam keadaan kritis.
Danu                           : “Suster...suster.. pasien yang pertama turun dari ambulan, itu adalah bima pasien pendonor jantung, suster !”
Ayah bima baru di turunkan dari ambulan saat danu berbicara seperti itu, ayah bima yang dalam keadaan kritis namun tidak hilang kesadaran mendengarnya dan berkata :
Papah bima     : “Biar, biar jantung saya saja yang digunakan untuk donor transplantasi jantung. Jangan jantung anak saya, bima. Gunakan jantung saya. Saya adalah ayahnya Bima.”
Kemudian, danu pun menyetujinya, dan melakukan tes kecocokan dan hasilnya pun telah cocok. Transplantasi jantung pun di lakukan.
Ternyata, jantung yang di donorkan untuk chika adalah jantung dari Ayah bima. Ia rela mengorbankan jantungnya demi anaknya, Bima. Ia tak mau jika Bima mendonorkan jantungnya pada orang lain, karena ia tak mau kehilangan Bima, lebih baik nyawanya yang terenggut di bandingkan dengan nyawa anaknya yang lebih berharga.
Akhirnya, chika pun berhasil melakukan tranplantasi jantungnya tersebut. Dan bima pun telah sembuh dari masa-masa kritisnya, akibat meminum obat kematian itu.
Kemudian, mereka berdua mendatangi tampat peristirahatan terakhir ayah bima.
Chika               : “Bima, maaf kan aku. Karena aku semuanya jadi begini”
Bima                            : “Sudah chika, tak apa. Ini semua adalah takdir, kau sembuh dari sakitmu itu karena takdir, dan aku bisa bertemu dan berteman dengan mu itu juga takdir. Tidak ada yang perlu di sesali, karena ini memang sudah jalannya.”

Akhirnya, mereka pun bisa menjalani dan menikmati hidup dengan lebih baik.